Rabu, 14 Februari 2018

masa depan


berforum-forum warung kopi yang telah kuikuti akhirnya tadi malam menghasilkan perbincangan yang paling serius. kami berhasil membahas masa depan. ya masa depan yang kami bahas. kita sama sekali tidak membahas masa lalu. kami tidak guyonan tentang masa sekolah, masa remaja, atau minggu kemarin. full malam tadi kita membahas sepuluh tahun mendatang. bukan besok, sebab kalau membahas esok hari, terlalu mepet. pasti tidak bisa ketemu detail. kita kan penganut hobi bicara sedikit kerja. jika membahas besok, mohon maaf, pasti kita kesulitan.

pokok bahasan yang kami bincang sebenarnya tidak memiliki dasar teori yang kuat. hanya melandaskan semua pada hebohnya teori frekwensi, konsep keabadian, tafsir agama future, lalu sedikit tentang semangat dan gerakan-gerakan perlawanan, dan bumbu yang paling ampuh adalah pengakuan kami atas perkasanya bang rossil, dan kang remason. heg heg heg.

okey kita mulai. tesis yang kami angkat sebagai pertanyaan mendasar malam tadi adalah bagaimana kehidupan pada kondisi masyarakat yang menjalankan transaksi non-tunai. ingat proyek menuju masyarakat non-tunai sudah dicanangkan pemrintah lho. artinya sah kalau kita siap-siap perilaku non-tunai menjadi kenyataan. penetrasi kebijakan ini sudah dimulai dengan penggunaan e-toll.

hubungannya? ya iyalah. kalau kita mau aktivitas portasi kita lancar. kita disediakan akses toll, yang menjanjikan kelancaran. pekerjaan pengadaan jalan tol, seluruhnya sedang dikebut. namanya toll, pasti berbayar. tau kan cara bayar di toll. betul, pake kartu e-money. bisa e-toll-card, ataupun kartu2 e-money produk bank. nah, disinilah letak penetrasinya. jika tak mau pake macam uang digital begini, kita sudah tidak bisa lagi pake akses jalan toll sudara. pelan dan pasti orang akan mencukupi diri dengan memiliki e- money untuk kelancaran kegiatan harian. ketertarikan dan ketergantungan e-money pada 5-10 tahun kedepan semakin nyata sudah.

perkiraaan dramastis berikutnya, terjadi pengurangan besar2an tenaga manusia di lembaga keuangan yang semakin digantikan macam AI dan aplikasi, layanan on-line berbasis data. sekolah atau lembaga yang terjun dibidang ini, pencetak tenaga profesional di perbankan siap-siap tutup aja gih. soalnya jelas, kedepan tidak butuh banyak orang pekerja perbankan. semua serba dicukupkan aplikasi dan AI.

data base kependudukan? kata siapa gerak ditempat, banyak kasus korupsinya saja. jangan saja-nya aja yang disimak. kalau kita pernah kehilangan KTP pasti akan mengalami verifikasi data model begini; setelah KTP terbit ulang kita akan disuruh finger scan, nah jika indikator kemiripan dan kevalidan muncul dilayar petugas, yakin deh, bahwa kita manusianya, gak akan dilanjut ferivikasi lanjutan. masih juga kita akan diambil foto terbaru. terjadilah pembaharuan data foto kita. base data sudah teruji kalau ktp kita sudah memiliki 12 >> indikator keberadaan kita sebagai makhluk. mulai foto retina, sidik jari, ttd, no induk dst.

tetangga kita, republik china sudah menerapkan pembayaran ngopi di warung pake hp-scan-barcode. uang digital sudah berlaku. gak usah berfikir cara memindah konvensional ke digital sulit, serahkan ahlinya.

sudahlah kedepan kita akan seperti robot yang kesemuanya akan didesign sesuai kebutuhan. ringan sih untuk ukuran kita harus bekerja untuk hidup. masa depan menjanjikan kemakmuran minimal tercipta. menjadi manusia abadi, rindu kematian.

Kamis, 30 Maret 2017

Gerbong

seperti kereta, hidup ini bergerbong-gerbong. gerbong panjang, pendek, sampai tanpa gerbong.
gerbong panjang. hampir pasti aku merasakan sesuatu yang tidak bisa saya rubah keseluruhannya. sesuatu itu begitu mengikat dalam ritme hidupku. aha ini gerbong semu, tak nampak tapi begitu menjadikanku laksana gerbong perjalanan yang tak sanggup aku keluar dari ruang nya. gerbong ini tetap membawaku sampai pada pemberhentian-pemberhentian yang telah diberitahukan kepadaku. gerbong ini begitu biasa, sebab aku tak pernah menanyakan detail gerbong ini, yang kutahu sedang berjalan dan enjoy saja membawaku, berjalan seiring derap putar roda yang menghantarkanku, ke tujuan. tujuan perjananku, yang diberitahukan ke aku, perjalanan yang harus kuikuti. sampah banget. tidaklah. aku tidak melanjutkan cerita ini dengan turun gerbong dan ganti gerbong. ini bukan petualangan yang sedang kukerjakan. ini tidak akan berakhir dengan pergantian-pergantian yang tiada akhir, terus dapat diganti dan diulang-ulang.

Hidup ini menghaparkan banyak pilihan. memilih, dipilih, mungkin juga dipilihkan, bisa juga terpilih. bagi saya kesemuannya menyimpan dampak dan resiko masing-masing. harus kita sadari ataupun tidak usah disadari, konsekwensi pilih-pilih ini menjadikan kita sebagian mengorbankan, dan sebagian mendapatkan. saat saya berkomitmen dengan seseorang, menghilangkan sedikit batas ke"aku"anku, menerima dia. menerima mereka dan akhirnya mempertajam beda dengan yang lainnya.
aku bertanya. sejak kapan aku sangat berbeda dan memiliki identitas yang membedakan dengan mereka. ya, saat aku bersama kamu, berkumpul dengan kalin. menjadikan mereka bukan kita. saat itulah aku adalah kalian, selain mereka, bukan mereka. selanjutnya benar2 aku tidak diterima mereka, aku menjadi musuh mereka juga, akhirnya. bermusuhan karena ikatan kita.
baiklah jika aku berjalan sendiri, apakah aku tidak mampu, tidak bisa menyusuri kehidupan ini, huh mungkin juga jalanku akan sempit dan licin, tapi peluangku hilang setengan saat berjalan denganmu.
apa sih dengan kalian aku coba berfikir lagi.

ah begini saja!
bahwa gerbong akan sangat membantu itu hanya ilusi. ya kresi otak yang seakan-akan saja. tidak pernah terjadi fix. hanya menjadi kebanggaan saat mencurahkan pada orang lain. seolah-olah penting. tidak tidak begini.

coba aku tulis ulang.
aku lebih suka "jangan percaya gerbong". karena gerbong hanya maju kepalanya duluan, banyak yang berhenti kehabisan bahan bakar. umur manusia hanya 20 tahun menahkodai gerbong. selebihnya sisa-sisa sampai berhenti pasti.

ah pusing menulis gerbong ini....




Labels

Asal (23) Perbuatan (22) Sikap (22) Suasana (18) Pertanyaan (15) Dream (10) Perjalanan (10) Tinggal Menerima (6) Main-main (4)