Selasa, 17 Desember 2024

gadaikan masa depan

kapal yang ku nahkodai sedikit bergetar, pertanda sebentar lagi kapalku akan oleng. jalur yang kulalui jelas salah. Kapal lain tampak tenang mengarung, kapalku persis dijalur arus yang berputar., arus yang membahayakan kapalku. kalua dipikir salah siapa? jelas salahku memilih jalur ini. peringatan bahaya sudah sering kudengar. disclaimer tidak kupahami dengan resiko yang kutanggung. hanya tersisa satu kekuatan. awak kapalku masih solid. meski mereka tak sepenuhnya tahu.penyebab Utama kapal dalam resiko besar adalah aku, sang nahkoda.

empat tahun lalu aku hanyalah pengembara kecil yang suka mencari informasi baru. ingin berwawasan luas, memiliki pengalaman yang mumpuni, sekaligus mencatat kisah2 yang menarik bagiku. informasi itu aku kumpulkan bagai sampah dikepalaku, beberapa kuhafal, beberapa sekedar menambah kosakataku dalam obrolan2 tak berkelas.

hingga suatu hari diakhir tahun wabah menyerang kota kami. semua penduduk takut untuk keluar rumah. ganasnya wabah ini terus diingatkan oleh para punggawa kerajaan ini. praktis lkesadaranku hanya satu. wabah ini akan menghabiskan seluruh penduduk dalam Waktu dekat maupun bertahap. imanku diuji, kepercayaanku dipertahuhkan. akalku tak mampu mengalisis dengan jernih. situasi apa ini. apa yang sesungguhnya terjadi. mulai saat itu aku mulai mencoba hal baru. yang tak sepenuhnya baru bagiku. tapi aku melihat yang baru ini sebagai loncatan cita-citaku. iya menjadi orang kuat. memiliki pundi2 harta yang berlimpah. dan memiliki jasa atas para penduduk sebagai pahlawan penyelamat yang terkenal. mulailah apa yang kupunya kutaruhkan. mulailah aku berusaha mencari cuan dengan secepat-cepatnya. melalui kesempatan hamper berhentinya seluruh kedai dan pengrajin tenun di kampung2. aku memberi mereka modal agar terus berjalan. sampai aku merasa bahwa mereka nyaman sekali melalui wabah ini dengan bekerja santai santai. sekedar memnuhi umsur kerja, bukan saatny menggenjot produksi. masuk akal karena ini situasi wabah melanda. 

setiap hari aku masih rajin merawat kapalku. beberapa hasil tangkapanku telah menghidupi keluarga kecilku dengan stabil mulai 10 tahun lalu. ya ..ak merasa kurang puas dengan capaian keluarga ini. mestinya capaian ku bisa lebih besar dari ini...pikirku saat itu.

suatu hari aku mampir dikedai saudara muda. disana semua orang tidak memerdulikan wabah. mereka lebih berfikir, menikmati hari2 terakhir mereka bercengkrama dan rukun sama tetangga cukup sebagai kenangan yang bisa dibawa apabila harus mati esok. suasana sangat hangat dan ringan. tempat yang sangat membahagiakan.

sejurus kemudian teman2 mulai membuat acara tebak-tebakan, sampailah ini lebih gayeng kalua pakai uang. sampailah perjudian local menjadi hiasan kedai ini sampai 2 tahun kemudian. pendatang semakin banyak, informasi perjudian semakin massive, orang semakin merasa ini juga kegiatan yang memiliki putaran ekonomi. mestinya ada yang lebih besar lagi putarannya. saat itulah banyak yang keluar kota mencari tempat perjudian yang lebih besar. termasuk aku. dugaan semua orang sama. wabah tidak sepenuhnya wabah berbahaya, tiba2 berakhir dengan sendirinya. aku dan teman2 masih kecanduan untuh dating ke tempat pertaruhan. meski berkali2 membawa hasil kalah, sesekali saja menang. sekarang semua, aku sendiri, telah kehabisan seluruh simpanan dan uang operasionalku. 

seperti biasa aku tetap mencari ikan untuk menghidupi keluargaku yang santun. dibalik semua aku harus menyisihkan tangkapanku untuk menutup uang kalah judiku. sungguh nahkoda yang kehilangan akal kepintaran dan kehilangan kepercayaan diri.

dipenghujung tahun keempat tanggal 18 dia menulis kisahnya untuk mengingat betapa konyolnya dia masih berharap para bandar mengasihinya dan dia harus menutup lobang yang hampir2 gak bisa ditutup, sampai 10 tahun kedepan. 

ditengah ketermenunganku datanglah tawaran untuk menjadi kasir toko ikan...kupikir aku juga nelayan, itung2 untuk menambah pendapatan. cukuplahuntuk menutup lobang membaik 10 rahun kedepan. masa depan yang telah kugadaikan. mengurungkan niatku untuk menjadi mentor top nelayan. mestinya tahun ini aku sudah menjadi mentor nahkoda. tapi apa daya, aku menerima pekerjaan kasir ikan ini untuk bertahan. minta tolong pada siapa? mengeluh ke orang untuk apa? tidak nemu jawaban. aku menuliskannya sebagai pengingat dan prasasti untuk kekonyolan besar. Ampuni dan Berkati aku Tuhan. Engkau tahu yan kumau. salam santun kawan!



Labels

Asal (23) Sikap (23) Perbuatan (22) Suasana (18) Pertanyaan (15) Dream (11) Perjalanan (11) Tinggal Menerima (6) Main-main (4)