Rabu, 04 Februari 2015

tidur

Bermimpilah yang tinggi, mengejar mimpi adalah kehidupan yang penuh dengan nuansa, pasang surut rintangan dan kesenangan akan melingkupi dengan amplitudo yang ekstrim, melebihi kesenangan dan rintangan yang didapat dalam perjalanan kehidupan tanpa mimpi-mimpi. Untuk ini, mari tidur!

Hehehe… kalimat terakhir paragraf diatas adalah kesimpulan tindakan yang tak mengarah, tidak menuju pencapaian dan target, malah menjauhi dari mendekatkan diri pada titik bisa dinilai: "Hasil".

Tapi biarkan sebentar  tulisan ini melanjutkan membahas tentang tidur. Kita mulai dengan slogan kesehatan. “Tidur dibutuhkan oleh semua makhluk hidup untuk kembali merefresh otak dan otot kita”. Otak menjadi “jernih” dan mampu mulai berpikir setelah stress melanda. Dan “relaksasi” otot akan memulihkan kemampuan kerja otot tubuh kita setelah sekian waktu dirasuki kelelahan.  Durasi “ketahanan” otak dan otot dalam bekerja harus dikasih jeda untuk optimalisasi kembali kinerjanya.

Kedua, sekecil apapun “mimpi” yang terbersit dalam benak kita, sangat mudah terbengkelai dan tinggal mimpi yang tidak pernah wujud dalam kehidupan kita. Keinginan minum es yang segar, keingininan duduk diberanda rumah untuk melihat siapa yang mengunjungi rumah kita, dan keinginan-keinginan “biasa” berikutnya, hanyalah mimpi kecil yang hanya bisa terwujud sampai kita memulainya, dan melakukannya. Wow..kenapa ini kembali membahas mimpi. Ini harus kembali membahas tidur dong!

Okey, Ketiga, tidur bukanlah urusan durasi, tetapi kualitas. Pencarian kita adalah mencari “tidur yang berkualitas”. Teori tidur 8 jam sehari, 5 jam sehari, bahkan cukup 2 jam sehari, dimentahkan oleh teori “tidur 5 menit yang berkualitas”. Music pengiring tidur guna mencapai “deep-sleep”, penggunaan relaksasi aromatik, meditasi-tidur, dan penataan nuansa-visual tempat tidur banyak dikemukakan dan diteliti untuk memperpendek “usia tidur”. Semakin sedikit waktu tidur yang diperlukan, semakin menjajikan untuk “irit” waktu terbuang untuk urusan tidur ini. Dalam 24 jam sehari, banyak waktu yang bisa digunakan untuk beraktifitas selain tidur, iya...mata “terjaga” lebih panjang dari “terpejam”. Dan jangan diperbandingkan lagi, apalah manfaat terjaga lama dengan kualitas kerja yang masih sebanding dengan kerja 2 jam yang berkualitas perfect. Ini adalah perbandingan yang sama sekali tidak sepadan dan adil. Ukurlah sendiri kebutuhan tidur. kebutuhan tidur saya tidak sama dengan kebutuhan adik kecil yang baru lahir.

Nomor Empat, “Tidurlah Nak!, malam semakin larut”. Pada saat malam hari, itulah siklus manusia untuk tidur. Karena kita bukan spesies makhluk malam.  Penciptaan kita menyandang potensi lebih efektif beraktifitas disiang hari. Selimut “gelap” malam dan suhu lebih rendah memberi kenyamanan untuk memejamkan mata. Menyempatkan bangun tengah malam memiliki makna aktivitas “perenungan dan evaluasi”. Bukan menyambung melanjutkan dan segera menyelesaikan “pekerjaan sisa” siang tadi, tapi menyambung pikiran siang tadi dengan perencanaan untuk esok pagi.

Kelima, Kesempatan dan terlelap. “Mengantuk adalah rahmat, nikmat, dan bahkan rezeki”. Waktu sekolah dulu, pendidikku mengatakan “tetaplah masuk kelas ini walaupun terkantuk-kantuk”. Intinya melawan ‘tidak tidur’ sekuat-kuatnya. Berusaha sesedikit mungkin kita kehilangan moment “kesempatan”, terlewatkan di saat kita sedang tidak tahu, sedang tidur. Jika benar amat sangat tidak kuat menahan ‘kantuk’, biarkan raga ini tertidur, kita tidak bisa menolaknya. Bayangkan kalau kita tidak memiliki rasa “ngantuk”. Tiba2 kita akan tersungkur ketika saat tidur telah tiba, sedang kita sedang asyik naik sepeda. Mengantuk adalah tanda tubuh kita harus ditidurkan, sepanjang jangan kita terkantuk-kantuk terus karena penyakit atau kemalasan. Selebihnya, penderita gangguan susah tidur, sejauh ini dikatakan sebagai penyakit dan menyiksa penderitanya.

Keenam, Tidur adalah masa terbaik untuk penyembuhan. Pada waktu tidur sel-sel akan bekerja efektif memerangi penyakit tubuh ataupun dalam kondisi badan normal, sel berkembang lebih cepat untuk keperluan pertumbuhan. Seperti di poin lima diatas, tidur saat sakit, adalah bagian rahmat disebabkan 'manfaatnya'.

Dan terakhir, nanti kalau kita sudah meninggal, acara kita hanya tidur saudara-saudara…jadi mumpung ada waktu. Marilah tidak kita memperbanyak tidur, dan menghambat jumlah karya yang kita hasilkan, sekali lagi sebelum kita hanya bisa dan bertugas hanya untuk “tidur”.

Labels