Rabu, 11 Februari 2015

8 Tahun


Tanggal 2 mei 2007-Tahun itu saya melihat pertama kali Sam Anto Baret di bulungan, Jakarta Selatan. Tempat induk Kelompok Penyanyi Jalanan berkumpul. Imaginasi saya langsung terbayang tokoh dalam Kho Ping Hoo, partai pengemis Kaypang, yang dalam dunia persilatan sejajar dengan kelompok Butong Pai, Siu Liem Pay dll. Dan di Jakarta ini sungguh saya menemukan wujud nyatanya. Kelompok yang berbasis orang 'pinggir', kelompok yang berdiri atas respon ketimpangan sosial. dan selalu, cara berpikirnya non- mainstream. Dalam berkelompok dan tatanan organisasinya. KPJ memiliki banyak cabang, dan malam itu terbukti banyak yang hadir dalam acara puncak ulang tahun KPJ. Lagi-lagi terlintas seperti cerita Kho Ping Hoo, banyak Tokoh2 lokal berdatangan entah dari cabang mana saja, yang jelas raut muka selalu tersenyum dan ramah menyapa setiap saling papasan, luar biasa! Saya mendapati suasana ini di Jakarta. Suasana rukun dan bersahaja. Yang mestinya sulit terjadi di 'kerasnya Ibu Kota'. Semua benar-benar menjadi saudara yang menyatu dalam fokus berlomba jadi orang‘benar’. Hanya kata ini yang bisa mewakili-penggambaran ini-menurut saya. Menyimak dari orasi Sam Anto Baret waktu malam puncak yang bertema ‘Muntah Putih’ itu. Tertepis gambaran disini adalah tempatnya kelompok preman yang bermuka ‘mencureng’  dan ganas, ternyata tidak demikian adanya dan jauh berbalik. Saat Sam Anto memperkenalkan tamu yang datang kepada saudara-saudara lain yang lebih dulu hadir, beliau selalu menggunakan bahasa indonesia campur ‘Kromo Inggil’ , bahasa paling halus. Padahal beliau sedang berhadapan dengan ‘anak-buah’nya sendiri dari daerah. Terkesiap dan tercengang aku waktu itu. Subhanallah…sejuk sekali di dalam hati. Pantas, Tampilan Sosok Sam Anto garang dan jangkung , tapi begitu bertutur kata,  sangat halus dan tenang. Hanya dari mendengar dan caranya berucap itu, saya mendapatinya begitu berwibawa. Bukan karena kasarnya, tapi malah karena halusnya. Dan moment kedua, Saat Tetua-Tetua KPJ (begitu saja saya menyebut, saya tidak hafal bro..) berkumpul, selalu saja ada pelayan (anak-buah) yang mengantar memberi minuman, walaupun itu tidak karena diperintah untuk menyajikan minum. Begitu minuman datang selalu mereka mengucap “suwun yo le…” lalu penyedia minum menjawab dengan santun “nggih…” . Nah.!. siapa yang tidak bangga memiliki -atasan/pemimpin/tetua/senior/bos- yang sangat menghormati dan menghargai -bawahan/yunior/karyawan- begini. Ringan untuk mengucap terimakasih pada siapapun. titik!
Dalam orasi pembukaan malam puncak aku hanya menghafal 2 paragrap yang mencerminkan pandangan Sam Anto Baret tentang Jalanan, kehidupan dan perjalannya. “Jalanan bukan impian, jalanan bukan khayalan, jalanan adalah kenyataan. Jalanan bukan pelarian, jalanan bukan sandaran, jalanan adalah kehidupan”. Dan “Kalau berani harus benar, kalau benar harus menang, dan kalau sudah menang duduknya yang benar”. Lalu diringi musik yang liriknya begini “menyampaikan kebaikan, tidak harus merasa baik. Menyampaikan kebenaran tidak harus merasa benar, kebenaran dan kebaikan itu ilmunya Tuhan, kebenaran dan kebaikan sudah ada sebelum kita dilahirkan”.

9 pebruari 2015-Berjumpa lagi saat Sam Anto berkunjung ke daerah….bla..bla..bla, bincang tentang sejarah pengamen, yang sudah ada sejak abad 17, 4 motivasi orang ke jalanan (sebagai karir, batu loncatan, iseng, dan profesi), sampai kenapa KPJ menggunakan istilah penyanyi bukan pengamen, karena tidak ada yang bercita-cita menjadi pengamen. tiba saatnya Sam Anto bicara tentang Jakarta kekinian..tentang kemungkinan jalanan akan semakin diserbu oleh banyak orang, karena semakin tidak banyak pilihan. dan apa yang paling kurekam? Satu gong paragrap saja “Kebenaran adalah ajaran, Kebaikan adalah Perbuatan dan Takut itu tidak punya rumah…wong hidup sekali saja”. Rasanya bergetar sampai kedalam hatiku saat itu juga. Cara berfikir nya, model perlawanan dan perjuangannya, konsistensi dan daya tahan yang Sam Anto pesankan, sungguh memukul ‘Malu’ apa yang sudah aku, sebagai generasi muda yang angin-anginan berbuat. Sam Anto memang nampak kelihatan lebih tua karena usia..tapi parau suaranya tetap semangat dan tajam. Pantang henti...”usiaku jek 39 iki” begitu candanya...  Menunduk malu kami, membangunkan lupa kami tentang ‘daya tahan’ didalam “Kebaikan adalah Perbuatan dan Takut itu tidak punya rumah…wong hidup sekali saja”.”takutlah kalau kita mengambil barang orang lain, takutlah kalau kita menindas orang lain…”. Semoga panjang umur untuk Sam Anto.

Labels