Rabu, 19 Februari 2014

titipan dari bendera hitam

18 Pebruari 2014 :
16:45: di 9 kilo ke arah matahari terbit, salah satu generasi 3 mondar-mandir sambil menggendong kebanggaannya, mulutnya komat-kamit, setengah mendendangkan kepiluan untuk menghibur darah dagingnya.  penuh harapan “terbaik”, berbalut kerelaan dan kebanggaan
17:00 : perjuangan pamungkas telah selesai, bukan untuk menghasilkan pemenang dan yang kalah, tapi pertunjukan siapa berkuasa dan siapa yang harus tunduk, penentuan akhir perjalanan hamba.
19:00: rumah besar ini menjadi penanda kebesaran penghuninya, beberapa orang membersihkan ruang-ruang, bersiap menyambut sekaligus menghantarkan persaksian pertemuan tuan rumah, untuk waktu lama yang dijanjikan.
19 Pebruari 2014
04:00: tarhim memanggil-manggil ummat, memberitahukan menyongsong fajar hari ini, memulai hari, memastikan dimulai dengan penyerahan menghadap dan iringan do’a kepada penguasa hari.
di tengah ruangan besar, sendirian generasi tiga harus menunggui ibu dari ibunya, atas perintah kakak dari ibunya, atas nama pengetahuan yang diketahui, dan antara keinginan dialog yang tidak mungkin terjadi, dan dugaan, beliau memang ingin ditemani sejenak untuk penghantaran terakhir itu.
10:00: dalam penutupan dan perasaan baur tidak sempurna, penyesalan atas kekurangan masa lalu, saat harus pamit dan hanya mampu meninggalkan do’anya. Generasi 3 melihat siapa tangis meledak yang memecah awalan do’a.  dalam hati aku menyusun kata-kata “bendera hitam, telah kau titipkan kerinduan atas kebersamaan" pada rabu wage.slm

Labels